Bantuan Untuk Mati Secara Bermartabat: Mengupas Aspek Sensitif Assisted Dying
Kisah Dave Rowntree: Rasa Nyesek dan Frustasi
Gue lagi ngerjain artikel tentang assisted dying nih. Istilahnya rada aneh, ya? Aslinya, judulnya lebih simple, kayak "Bantuan untuk Mati Secara Bermartabat". Tapi ngerti lah maksudnya. Gue baca artikel ini dan ternyata… ini bikin gue sedih, ngeselin, dan frustasi semua jadi satu. Jadi, ini nih ceritanya.
Cerita ini tentang drummer Blur, Dave Rowntree, yang kehilangan mantan istrinya. Mantan istrinya ini kena kanker dan terpaksa harus pergi ke Swiss buat melakukan euthanasia di klinik Dignitas. Bayangin, di umur 53 tahun, dia harus ninggalin keluarganya dan melakukan itu sendirian. Gue udah bisa bayangin betapa tersiksanya dia saat itu.
Hukum Tanpa Empati dan Ketidakadilan
Buat gue, yang paling nyesek itu waktu baca statement Rowntree tentang sistem hukum Inggris. Kata dia, “hukum itu gak punya empati untuk penderita." Wah, ini bener-bener bikin gue kesel! Kenapa hukum harus memperkeruh keadaan? Kebayang gak sih, kalau di Indonesia pun banyak orang yang gak punya akses ke perawatan medis yang baik dan terjebak dalam sistem yang rumit.
Di sini Rowntree pun mendesak agar ada perubahan dalam undang-undang assisted dying, supaya orang yang sakit berat bisa milih mati secara tenang dan bermartabat. Kayaknya, undang-undang sekarang lebih mirip ke "peraturan kejam buat orang yang lagi menderita," sih. Udah kayak hukum zaman kuno, kalo orang sakit malah disuruh mati tanpa bisa menentukan jalannya sendiri.
Dilema Moral dan Agama: Jalan Tengah?
Nah, kalau bicara tentang hukum assisted dying, gue pribadi jujur masih bingung nih. Dari satu sisi, kita harus menghargai hak seseorang buat menentukan nasibnya sendiri, tapi di sisi lain, gue juga mikir soal tanggung jawab, moral, dan agama. Mungkin kalau dibilang gue belom siap untuk mendukung sepenuhnya, gue setuju.
Pelajaran Penting dari Kisah Dave Rowntree
Tapi apa yang terjadi sama Rowntree dan mantan istrinya itu ngasih kita pelajaran. Kalo mau jujur, siapa sih yang berani memastikan kalau dia gak bakalan pernah terjebak di situasi yang sama? Kita semua punya orang-orang tercinta yang mungkin suatu hari terjangkit penyakit kronis. Dan siapa tau, kita yang jadi pengambil keputusan sulit itu.
Masih Banyak Pertanyaan dan PR
Udah gitu, kalaupun ada undang-undang assisted dying, kita juga harus pastikan bahwa dia gak disalahgunakan, deh. Kayak gini misalnya, apa ada potensi orang kaya yang cuma memanfaatkannya sebagai cara cepat buat mengakhiri hidup, atau malah digunakan orang yang punya penyakit mental? Masih banyak PR nih untuk bisa menemukan solusi yang pas buat semua pihak.
Mendorong Diskusi Terbuka dan Berani Menghadapi Realitas
Oke, ini baru awal nih. Gue harus ngebuatin artikelnya, ngasih detail undang-undangnya di Inggris dan negara lain, bahkan membahas tentang kondisi kesehatan mental dan lain sebagainya. Intinya sih, kita harus berani ngebahas topik sensitif ini dengan terbuka, tanpa bersembunyi. Gue percaya, dengan membahasnya bareng-bareng, kita bisa bikin jalan keluarnya lebih terarah, sesuai dengan hati nurani.
Posting Komentar untuk "Bantuan Untuk Mati Secara Bermartabat: Mengupas Aspek Sensitif Assisted Dying"
Posting Komentar